Pentingnya mengetahui cara mengobati kusta agar tidak berakibat fatal pada sipenderita

January 15, 2020 | By eddye | Filed in: Kesehatan.

Penyakit Morbus Hansen merupakan kusta atau lepra. infeksi menular kronis yang menyerang sistem saraf, kulit, selaput lendir hidung, dan mata. Penyakit tersebut dapat dialami oleh semua kalangan, tanpa memandang jenis kelamin maupun usia. Setiap dua menit seseorang terdiagnosis penyakit lepra. Penyakit ini umum di banyak negara, terutama yang beriklim tropis atau subtropis. 

Meski penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan parah dan cacat signifikan, namun sebenarnya lepra bisa sembuh total jika penderita melakukan cara mengobati kusta dengan tepat. Ya, orang dengan penyakit ini bisa menjalankan kembali kehidupan normalnya, seperti bekerja, bersekolah, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya.  Lepra merupakan penyakit tertua di dunia. sejak tahun 600 sebelum masehi penjelasan tentang penyakit tersebut dari berbagai referensi. 

Dahulu juga sangat di percaya bahwa lepra merupakan penyakit kutukan Tuhan yang sering dihubungkan dengan dosa. Bahkan, sejak zaman kuno penyakit tersebut menjadi sebuah momok paling menakutkan karena dapat menyebabkan kecacatan, mutilasi (misalnya terputusnya salah satu anggota gerak seperti jari), luka borok, dan masih banyak lain. Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium leprae, bakteri tahan asam berbentuk batang. Bakteri penyebab lepra teraebut tumbuh sangat lambat bahkan membutuhkan waktu setidaknya 6 bulan atau bahkan 40 tahun untuk menunjukkan tanda-tanda infeksi. 

Berdasarkan laporan WHO, Pada tahun 2014, terdapat 121 negara yang dilaporkan memiliki kasus kepras, termasuk Indonesia. Adapun  jenis-jenis kusta yang ditemukan diindonesia terdia dari dua macam, misalnya Kusta basah atau multi basiler (MB). Gejala penyakit ini yang paling ketara adalah munculnya bercak kemerahan dan disertai penebalan pada kulit yang mirip dengan kadas. Bercak kemerahan ini bisa muncul dan menyebar lebih dari lima buah. Kusta kering atau pausi basiler (PB). Penyakit kepra jenis ini ditandai dengan kemunculan sekitar 1-5 bercak putih di kulit. Bercak putih yang muncul tampak mirip sekali dengan panu. Sehingga, cara mengobati kusta tergantung pada jenis masing-masing. 

Dilansir dari laman Alodokter, Pemberian antibiotik pada kusta selama 6 bulan hingga 2 tahun. Jenis, dosis, dan durasi penggunaan antibiotik tersebut akan ditentukan berdasarkan jenis kusta yang diderita. Beberapa contoh antibiotik yang digunakan untuk pengobatan tersebut adalah rifampicin, dapsone, dan clofazimine. sebagai proses lanjutan secara umum akan dilakukan proses pembedahan setelah pengobatan antibiotik. Tujuan prosedur pembedahan sebagai cara mengobati kusta pada sipenderitabagi:

  • Kembali menormalkan fungsi saraf yang rusak pada sipenderita.
  • Perbaikan pada bentuk tubuh yang cacat.
  • Fungsi anggota tubuh yang dapat dikembalikan seperti semula, normal pada umumnya..

Segala cara sudah dilakukan oleh WHO untuk mengurangi penyakit kusta tersebut. mulai dari memastikan setiap negara ikut andil dalam usaha ini, secara aktif mendeteksi penderita dan bahkan melakukan berbagai cara mengobati kusta itu sendiri, hingga turut serta dalam meluruskan stigma dan mencegah diskriminasi terhadap si penderita. Jika stigma dan diskriminasi tidak ada, diagnosis akan ditegakkan secara cepat, sehingga pengobatan tidak tertunda dan kecacatan dapat tercegah akibat penyakit tersebut. diagnosis dan pengobatan secara efektif, ternyata sangat berpengaruh terhadap seberapa cepat resiko komplikasi penyakit tersebut. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi jika terlambat untuk diberikaan pengobatan, adalah:

  • Mati rasa.
  • Kebutaan atau glaukoma.
  • Gagal ginjal.
  • Disfungsi ereksi dan kemandulan pada pria.
  • Perubahan bentuk wajah.
  • Kerusakan permanen pada bagian dalam hidung.
  • Kerusakan saraf permanen di luar otak dan saraf tulang belakang, termasuk pada lengan, tungkai kaki, dan telapak kaki
  • Kelemahan otot.
  • Cacat progresif, seperti kehilangan alis, cacat pada jari kaki, tangan, dan hidung.
  • Selain itu, diskriminasi yang dialami penderita dapat mengakibatkan gangguan mental seperti depresi hingga dapat mengakibatkan percobaan bunuh diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *